[FF/series/PG-13/trouble of love/chapter 1]
Title : Trouble Of Love
Author : wiinda
Genre : romance
Rating : PG-13
Lenght : Series
Location : South Korea
Language : Indonesian
Pairing : Seohyun ♥ Kyuhyun ♥ Victoria ♥ Donghae
Cast : Artist of SMTown (SHINee, f(x), Super Junior, SNSD, TVXQ, CSJH)
Victoria memandangi dirinya di kaca kamar mandi. Gaun hitam yang ketat dan terbuka di bagian punggung membalut tubuhnya dengan indah. Ia memberi make-up tipis pada wajahnya dengan sangat hati-hati, agar penampilannya hari ini sempurna. Setelah selesai make-up, dengan riang Victoria membuka pintu kamar mandi dan keluar. Kebahagiaannya menguap.
Matanya tiba-tiba terpaku pada amplop tertutup yang ada di meja riasnya. Amplop tanpa nama dan alamat pengirim. Ia mengambil surat itu, kemudian duduk di ranjang. Ia sudah bisa menebak isi surat itu. Pasti bernada sama seperti surat-surat yang pernah ia dapat sebelumnya. Ia segera membuka amplop putih itu dan mulai membaca.
Tinggalin kyuhyun! Kamu nggak pantas buat dia! Dasar jelek !!
Victoria menarik napas kuat-kuat. Seharusnya ia sudah mulai terbiasa dengan surat semacam ini yang pasti datang setiap hari. Di amplop putih itu hanya tertulis namanya dan stempel pos diatas perangko. Tidak ada alamat dan nama pengirim seperti biasa. Tapi sebenarnya Victoria sudah tahu siapa pengirimnya. Pasti cewek itu.
Mystery, mystery. molla molla ajik neoneun molla~
Victoria meraih handphone yang tergeletak di meja di samping tempat tidurnya.
“Yoboseyo?”
“Eonni-ah” seru seseorang di seberang sana
“Sulli?” tanya Victoria kaget
“Ne. Eonni, aku udah sampai di Bandara. Jemput aku sekarang ya”
“Tapi eonni a-“ Victoria menghentikan kalimatnya, karena sambungan sudah terputus. Ia berpikir sejenak, sebuah ide terlintas di benaknya.
***
“Shit!” maki cewek itu. Sulli memasukkan handphone-nya yang sudah ‘tak bernyawa’ ke dalam saku jaketnya. Ia melihat ke sekelilingnya. Sepi. Konon di bandara ini sering terlihat sosok hantu tanpa kepala di malam hari. Ia bergidik. Tangannya meraba-raba ransel birunya, mencari I-pod untuk menepis rasa takutnya.
“Ah, ketemu” bisiknya. Tiba-tiba seseorang menepuk bahu Sulli dari belakang. Muka Sulli mendadak pucat pasi. Ia menarik napas perlahan, mengumpulkan keberanian untuk menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi. Il… I… Sam… Ia menengadahkan kepala. Manusia! Thanks God!
“Kkaja” seru orang itu sambil menarik paksa tangan Sulli. I-pod terlepas dari genggamannya.
“YA?! Lepaskan! I-pod ku” Sulli memberontak.
Orang itu membekap mulut Sulli dengan tangan kanannya, sementara sebelah tangannya yang bebas menarik koper Sulli. Ia mendorong tubuh Sulli keluar dari ruang tunggu menuju parkiran mobil.
Orang itu membuka pintu mobil, mendorong Sulli masuk. Lalu berlari mengitar dan melaju di jalanan yang gelap gulita.
“Jelaskan padaku. Siapa kau sebenarnya? Kenapa kau tiba-tiba datang dan menculikku? Aku bukan artis atau anak presiden! Aku hanya gadis biasa! Turunkan aku! Eonni-ku pasti sedang menungguku di sana” ucap Sulli panjang lebar.
Orang itu hanya diam, tidak menjawab pertanyaan Sulli. Matanya terpaku pada jalanan di hadapannya.
“YA?! JAWAB AKU! APA KAU BISU?” teriak Sulli. Kesabarannya mulai habis.
Orang itu menghentikan mobil secara mendadak. Ia menatap Sulli tajam.
“Apa kau tidak bisa mengunci mulutmu? Teriakanmu mengganggu konsentrasiku”. Sulli terdiam. Mobil mulai melaju lagi. Tak satupun yang membuka suara sepanjang perjalanan.
Mobil itu berhenti di depan sebuah rumah bercat merah tua dengan taman yang cukup luas. Sulli terkesiap.
“Darimana dia tahu kalau ini rumahku? Apa dia mata-mata?” batin Sulli.
“Udah sampai…” kata orang itu dingin, tanpa menoleh.
Sulli tidak bergeming. Beragam pertanyaan berkecamuk di kepalanya.
“CHOI SULLI, TURUN DARI MOBILKU SEKARANG” teriak orang itu. Sulli terkejut lalu segera turun dari mobil, berlari ke belakang mengambil kopernya.
Setelah itu mobil bergerak dan pergi entah kemana.
“Kasar! Angkuh! Pemarah! Sok Cool!” gumam Sulli sambil berjalan memasuki rumahnya.
“Tapi tadi dia menyebut nama lengkapku. Darimana dia tahu?” batin Sulli
***
Victoria memasuki sebuah bar mewah yang terletak di pusat Kota Seoul. Ia celingukan mencari tempat duduk yang sudah dipesannya tadi sore. “Nomor 13. Ah, itu dia” gumamnya sambil berjalan menuju tempat duduk di pojok bar itu.
30 menit…
1 jam…
2 jam…
3 jam…
3 botol soju yang kosong berdiri tegak di hadapannya, tetapi orang yang ditunggunya belum juga tiba. Victoria melirik sekilas ke arah pintu masuk bar. “Kemana dia? Kenapa belum datang juga? Apa dia lupa?” batinnya.
“Mau aku temani?” tanya seseorang
“Kyuhyun?” tanya Victoria setengah sadar
“Anio”
Victoria memperjelas penglihatannya. Orang itu tersenyum padanya. Kim Jaejoong, teman SMA-nya.
“Jaejoong-ah” kata Victoria pelan
“Akhirnya kau mengenaliku. Kenapa kau sendirian disini? Mana pacarmu, Kyuhyun?”
“Entahlah. Dia lebih mementingkan pekerjaan daripada aku” sahut Victoria sambil tersenyum hambar.
Jaejoong menatapnya dalam diam.
“Aku mau pulang dulu. Sudah larut” kata Victoria, beranjak dari tempat duduknya.
“Mau ku antar?” tanya Jaejoong lembut
“Anio. Aku naik bus saja. Annyeong” ucap Victoria sambil membungkukkan badannya.
Jaejoong memperhatikan sosok Victoria yang berlalu dari hadapannya. “Dia sudah berubah” gumamnya.
***
“Listen Girl, Choahae! Baby Girl, Saranghae!” orang itu bersenandung pelan sambil memasukkan barang belanjaannya ke bagasi mobil.
Ia menghidupkan mobil perlahan dan melaju. Tiba-tiba sesosok bayangan melintas di depan mobilnya. “Rem!!” pekiknya. Ia segera keluar dan menghampiri orang itu. Ia membalikkan tubuh orang yang ditabraknya secara perlahan. Tubuh orang itu bersimbah darah. Ia terperangah. “Kau??” teriaknya
Author : wiinda
Genre : romance
Rating : PG-13
Lenght : Series
Location : South Korea
Language : Indonesian
Pairing : Seohyun ♥ Kyuhyun ♥ Victoria ♥ Donghae
Cast : Artist of SMTown (SHINee, f(x), Super Junior, SNSD, TVXQ, CSJH)
Victoria memandangi dirinya di kaca kamar mandi. Gaun hitam yang ketat dan terbuka di bagian punggung membalut tubuhnya dengan indah. Ia memberi make-up tipis pada wajahnya dengan sangat hati-hati, agar penampilannya hari ini sempurna. Setelah selesai make-up, dengan riang Victoria membuka pintu kamar mandi dan keluar. Kebahagiaannya menguap.
Matanya tiba-tiba terpaku pada amplop tertutup yang ada di meja riasnya. Amplop tanpa nama dan alamat pengirim. Ia mengambil surat itu, kemudian duduk di ranjang. Ia sudah bisa menebak isi surat itu. Pasti bernada sama seperti surat-surat yang pernah ia dapat sebelumnya. Ia segera membuka amplop putih itu dan mulai membaca.
Tinggalin kyuhyun! Kamu nggak pantas buat dia! Dasar jelek !!
Victoria menarik napas kuat-kuat. Seharusnya ia sudah mulai terbiasa dengan surat semacam ini yang pasti datang setiap hari. Di amplop putih itu hanya tertulis namanya dan stempel pos diatas perangko. Tidak ada alamat dan nama pengirim seperti biasa. Tapi sebenarnya Victoria sudah tahu siapa pengirimnya. Pasti cewek itu.
Mystery, mystery. molla molla ajik neoneun molla~
Victoria meraih handphone yang tergeletak di meja di samping tempat tidurnya.
“Yoboseyo?”
“Eonni-ah” seru seseorang di seberang sana
“Sulli?” tanya Victoria kaget
“Ne. Eonni, aku udah sampai di Bandara. Jemput aku sekarang ya”
“Tapi eonni a-“ Victoria menghentikan kalimatnya, karena sambungan sudah terputus. Ia berpikir sejenak, sebuah ide terlintas di benaknya.
***
“Shit!” maki cewek itu. Sulli memasukkan handphone-nya yang sudah ‘tak bernyawa’ ke dalam saku jaketnya. Ia melihat ke sekelilingnya. Sepi. Konon di bandara ini sering terlihat sosok hantu tanpa kepala di malam hari. Ia bergidik. Tangannya meraba-raba ransel birunya, mencari I-pod untuk menepis rasa takutnya.
“Ah, ketemu” bisiknya. Tiba-tiba seseorang menepuk bahu Sulli dari belakang. Muka Sulli mendadak pucat pasi. Ia menarik napas perlahan, mengumpulkan keberanian untuk menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi. Il… I… Sam… Ia menengadahkan kepala. Manusia! Thanks God!
“Kkaja” seru orang itu sambil menarik paksa tangan Sulli. I-pod terlepas dari genggamannya.
“YA?! Lepaskan! I-pod ku” Sulli memberontak.
Orang itu membekap mulut Sulli dengan tangan kanannya, sementara sebelah tangannya yang bebas menarik koper Sulli. Ia mendorong tubuh Sulli keluar dari ruang tunggu menuju parkiran mobil.
Orang itu membuka pintu mobil, mendorong Sulli masuk. Lalu berlari mengitar dan melaju di jalanan yang gelap gulita.
“Jelaskan padaku. Siapa kau sebenarnya? Kenapa kau tiba-tiba datang dan menculikku? Aku bukan artis atau anak presiden! Aku hanya gadis biasa! Turunkan aku! Eonni-ku pasti sedang menungguku di sana” ucap Sulli panjang lebar.
Orang itu hanya diam, tidak menjawab pertanyaan Sulli. Matanya terpaku pada jalanan di hadapannya.
“YA?! JAWAB AKU! APA KAU BISU?” teriak Sulli. Kesabarannya mulai habis.
Orang itu menghentikan mobil secara mendadak. Ia menatap Sulli tajam.
“Apa kau tidak bisa mengunci mulutmu? Teriakanmu mengganggu konsentrasiku”. Sulli terdiam. Mobil mulai melaju lagi. Tak satupun yang membuka suara sepanjang perjalanan.
Mobil itu berhenti di depan sebuah rumah bercat merah tua dengan taman yang cukup luas. Sulli terkesiap.
“Darimana dia tahu kalau ini rumahku? Apa dia mata-mata?” batin Sulli.
“Udah sampai…” kata orang itu dingin, tanpa menoleh.
Sulli tidak bergeming. Beragam pertanyaan berkecamuk di kepalanya.
“CHOI SULLI, TURUN DARI MOBILKU SEKARANG” teriak orang itu. Sulli terkejut lalu segera turun dari mobil, berlari ke belakang mengambil kopernya.
Setelah itu mobil bergerak dan pergi entah kemana.
“Kasar! Angkuh! Pemarah! Sok Cool!” gumam Sulli sambil berjalan memasuki rumahnya.
“Tapi tadi dia menyebut nama lengkapku. Darimana dia tahu?” batin Sulli
***
Victoria memasuki sebuah bar mewah yang terletak di pusat Kota Seoul. Ia celingukan mencari tempat duduk yang sudah dipesannya tadi sore. “Nomor 13. Ah, itu dia” gumamnya sambil berjalan menuju tempat duduk di pojok bar itu.
30 menit…
1 jam…
2 jam…
3 jam…
3 botol soju yang kosong berdiri tegak di hadapannya, tetapi orang yang ditunggunya belum juga tiba. Victoria melirik sekilas ke arah pintu masuk bar. “Kemana dia? Kenapa belum datang juga? Apa dia lupa?” batinnya.
“Mau aku temani?” tanya seseorang
“Kyuhyun?” tanya Victoria setengah sadar
“Anio”
Victoria memperjelas penglihatannya. Orang itu tersenyum padanya. Kim Jaejoong, teman SMA-nya.
“Jaejoong-ah” kata Victoria pelan
“Akhirnya kau mengenaliku. Kenapa kau sendirian disini? Mana pacarmu, Kyuhyun?”
“Entahlah. Dia lebih mementingkan pekerjaan daripada aku” sahut Victoria sambil tersenyum hambar.
Jaejoong menatapnya dalam diam.
“Aku mau pulang dulu. Sudah larut” kata Victoria, beranjak dari tempat duduknya.
“Mau ku antar?” tanya Jaejoong lembut
“Anio. Aku naik bus saja. Annyeong” ucap Victoria sambil membungkukkan badannya.
Jaejoong memperhatikan sosok Victoria yang berlalu dari hadapannya. “Dia sudah berubah” gumamnya.
***
“Listen Girl, Choahae! Baby Girl, Saranghae!” orang itu bersenandung pelan sambil memasukkan barang belanjaannya ke bagasi mobil.
Ia menghidupkan mobil perlahan dan melaju. Tiba-tiba sesosok bayangan melintas di depan mobilnya. “Rem!!” pekiknya. Ia segera keluar dan menghampiri orang itu. Ia membalikkan tubuh orang yang ditabraknya secara perlahan. Tubuh orang itu bersimbah darah. Ia terperangah. “Kau??” teriaknya
Lacey
Hi ^^ I'm Lacey from Indonesia. I'm addicted to Korea, all of about them. And I love to write fanfictions.
Homepage: http://aiden2win.wordpress.com
Hana (One)
Diposkan dalam fanfiction pada Desember 9, 2010
Title: Hana
Author: Tuwin
Rating : PG+15 / Straight
Main Casts: Choi Minho (SHINee), Park Yoon Mi (OC)
Other Casts: Choi Sulli (f(x)), Lee Jin Ki, Kim Jonghyun, Kim Ki Bum, Lee Taemin (SHINee), Kwon Yuri (SNSD).
Genre: Angst
Theme Song: Hana – SHINee
Length : Oneshot
Disclaimer: I don’t own the characters. They belong to their self and Park Yoon Mi is my original character . This story is only a fiction, so please not sue me and bashing this fanfiction.
Choi Minho, apa kau tahu? Aku sangat mencintaimu. Aku akan terus melukai tubuhku hingga kau tahu betapa besar cintaku padamu. Hatimu dan darahku, kita akan bersama selamanya. I love you.
Minho menghela napas panjang. Surat berdarah itu selalu menghantuinya selama tiga bulan terakhir. Terdengar ketukan dari luar.
“Masuk.” Ujar Minho.
“Oppa, apa kau baik-baik saja?” Sulli berjalan mendekat.
“Hmm.. “ Jawab Minho, sekenanya.
“Ini, kubuatkan coklat susu untukmu. Minumlah” Sulli meletakkan mug di atas meja kerja Minho. Ia mengambil surat berdarah dari tangan Minho.
“Kau dapat ini lagi?” tanya Sulli.
Minho menganggukkan kepalanya.
“Jadi, kau stres karena memikirkan surat konyol seperti ini? Oppa, pernikahanmu lusa. Seharusnya kau lebih memikirkan itu. Lupakan surat konyol ini. Masa depanmu lebih penting. Serahkan saja padaku, akan kuselidiki siapa pelakunya.” Sulli tersenyum tulus, dipeluknya Minho dengan erat.
“Gomaweo,” bisik Minho pelan.
“Ne, jaljayo,” Sulli melepaskan pelukannya, berlalu dari ruangan.
Minho menyeruput habis susu coklatnya, lalu beranjak tidur.
***
Minho memasuki ruang kantornya, bau anyir darah menyengat. Dilihatnya dinding kantornya yang dipenuhi kalimat bertuliskan :
” Hanya aku pendamping hidup yang pantas bagimu. Tak ada yang lain. Jika kau ingin kekasihmu selamat, batalkan pernikahan kalian! Jika tidak, darah kekasihmu-lah yang akan menjadi taruhannya.”
Wajah Minho pucat pasi, ia terduduk lemas. Dia merogoh sakunya, ditekannya nomor Yoon Mi dengan tergesa-gesa.
“Yoon Mi-ah, gwaenchana?” tanyanya segera.
“Kau dimana? Sendirian? Aku kesana sekarang.”
***
Minho celingukan, mencari sosok Yoon Mi. Ia melambai pelan pada gadis berambut sebahu yang mengenakan kacamata.
“Ada apa? Kenapa kau pulang cepat?” tanya Yoon Mi.
“Tidak, aku hanya ingin mengecek keadaanmu. Kau baik-baik saja kan?” Minho memegang bahu Yoon Mi.
“Minho-ah, kau aneh sekali. Tak pernah kau seperti ini sebelumnya.” alis Yoon Mi bertaut.
“Sudahlah, jangan dibahas lagi. Kita makan saja.”
“Aku ambil tasku dulu.” Punggung Yoon Mi menjauh, memasuki toko buku miliknya.
“AAAAAAAAAAA~~~ “ terdengar jeritan Yoon Mi dari dalam toko.
“Apa yang terjadi?” Minho berdiri di ambang pintu. Keringat dingin mengucur di pelipis Yoon Mi.
“I-i-tu.. “ Yoon Mi menunjuk boneka jelangkung yang tergeletak di lantai.
Minho mendekat, memungut boneka jelangkung itu, membuangnya ke tempat sampah.
“Tenanglah, jangan menangis. Ada aku disini.” Minho merangkul bahu Yoon Mi, mendekapnya erat.
“Pasti orang yang sama dengan pengirim surat itu.” batin Minho.
***
Minho menjatuhkan tubuhnya ke sofa. Dirampasnya remote tv yang dipegang Sulli.
“Oppaaaaaa~ “ teriak Sulli.
“Apa kau sudah tahu siapa pelakunya?”
Sulli terdiam. Minho menatap Sulli tajam.
“Pelakunya Yuri Sunbae, Kwon Yuri. “ jawab Sulli.
“Siapa dia? Aku tak pernah mendengar namanya.” Minho mengelus dagunya.
“Apa kau ingat? Sunbae yang pernah menyatakan cintanya padamu, saat kau kelas 2 SMA?”
“Hhmm~” gumam Minho, berusaha mengingat.
“Dia ketua cheerleaders di SMA kita.” Sulli memberikan clue.
“Aku ingat! Sunbae yang cantik itu ‘kan? Salah satu anggota geng So Nyeo Shi Dae?”
“Ya, dia orangnya.”
“Tapi aku tidak yakin dia pelakunya. Wajahnya tidak seperti seorang penjahat.”
“Jadi begini ceritanya, sewaktu kau menolak cintanya, dia frustasi sekali. Bahkan, berniat untuk bunuh diri. Dia terobsesi sekali denganmu, di dinding kamarnya saja penuh dengan fotomu. Setiap hari, dia selalu menyebut namamu. Minho, Minho, Minho dan Minho.”
“Kau pasti bohong,” ucap Minho.
“Ya sudah, kalau kau tidak percaya. Aku tahu ini semua dari Yoona sunbae, salah satu teman geng-nya. Kembalikan remote-nya, dramanya sudah dimulai.” Sulli mengambil remote dari tangan Minho, dan tak lama terbuai oleh drama yang ditontonnya.
Minho merenung, kata-kata Sulli terus bergaung di telinganya. Minho menutup matanya perlahan.
***
“Oppa~ ireona!” Sulli memencet hidung mancung Minho.
Mata minho membulat, wajahnya memerah. Minho memukul kasar tangan Sulli.
“Pabo!” Minho mengumpat kesal.
“Kau lihat jam berapa sekarang? Kita harus ke gereja pukul 8! Bersiaplah.” Sulli mendorong tubuh Minho ke kamar mandi, menutup pintunya kasar.
“Handukku mana?” kepala Minho menyembul.
Sulli melemparkan handuk tepat mengenai wajah Minho.
“Sorry,” ujar Sulli, menjulurkan lidahnya.
***
Minho keluar dari kamarnya, lengkap dengan setelan tuxedo putih. Sulli duduk di sofa, menunggunya dengan tampang kesal. Jinki, Jonghyun, Key dan Taemin telah tiba.
“Bagaimana penampilanku?” tanya Minho.
“Seperti biasa, kau selalu sempurna,” sahut Jinki disambut anggukan setuju dari Taemin.
“Lama sekali kau di dalam, kura! Kami bosan sekali menunggumu, apa kau tak lihat tampang kami, huh?” Key mengoceh panjang.
Minho tersenyum simpul,” Sorry, kita pergi sekarang saja. Kka.”
***
Minho turun dari mobil, rasa takut menyergapnya.
“Ayo jalan, kenapa kau berdiri disini? Grogi?” Jonghyun menepuk bahu Minho.
“Tenang saja, semuanya akan berjalan dengan lancar. Tak ada yang harus dikhawatirkan.” Onew tersenyum tulus.
“Ya, kau benar Hyung.” Minho melangkah dengan pasti memasuki gereja, diikuti teman-temannya. Dekorasi serba putih mewarnai tiap sudut ruangan. Yoon Mi duduk manis di bagian timur gereja, dikelilingi oleh bunga dan lilin. Gaun dengan warna senada membalut tubuhnya indah, make-up tipis semakin mempercantik dirinya. Sementara Minho, duduk di sisi satunya.
***
Upacara pemberkatan dimulai, Yoon Mi berjalan perlahan menuju altar, tempat Minho dan pendeta berdiri. Dibelakangnya dua orang anak kecil memegang ujung gaunnya. Bibir mungilnya terus mengulum senyuman kebahagiaan. Minho menyambut tangan Yoon Mi, mereka berdua menghadap pendeta.
“Choi Minho-ssi, apakah anda bersedia menerima sang mempelai wanita dalam kondisi senang ataupun susah, sehat maupun sakit sampai maut memisahkan?” tanya sang pendeta.
“I do,” jawab Minho.
“Park Yoon Mi-ssi, apakah anda bersedia menerima sang mempelai pria dalam kondisi senang ataupun susah, sehat maupun sakit sampai maut memisahkan?” tanya sang pendeta lagi.
“I do,” sahut Yoon Mi. Mereka pun bertukar cincin.
Pintu gereja menjeblak terbuka. Seorang gadis berdiri di sana, penampilannya tak karuan. Ia berjalan mendekati Minho dan Yoon Mi. Pancaran rasa sayang tampak dari matanya, ia membelai pipi Minho lembut. Lalu, menatap Yoon Mi sinis. Ia mengeluarkan sesuatu dari balik kaosnya, menusuk perut Yoon Mi dengan cepat. Yoon Mi terjatuh lemas, darah mengalir deras dari balik gaunnya. Para tamu terbelalak, mereka berlarian mendekat.
“Yoon Mi-ah, Yoon Mi-ah.. “ tangis Minho pecah. Ditepuknya pipi Yoon Mi pelan. Tak ada respon. Minho mengangkat tubuh Yoon Mi keluar dari gereja, ke arah mobilnya.
“Yoon Mi-ah, bertahanlah. Jangan tinggalkan aku.” Ucap Minho disela isak tangisnya yang mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi.
“Yoon Mi-ah….”
“Hwahahahahahahahaha…… “ Tawa Yoon Mi meledak. Minho mengerem mobilnya mendadak, membuat tawa Yoon Mi agak mereda.
“Apa kau gila, huh? Jadi, ini semua hanya lelucon? Kau mempermainkanku, Park Yoon Mi? ?” Minho berteriak nyaring. Dada bidangnya naik-turun, berusaha mengontrol amarahnya.
Yoon Mi terkejut, tak menyangka reaksi Minho akan seperti ini.
“Kau pikir ini semua lucu? Bercandamu keterlaluan! Kekanak-kanakan! Apa kau pikir hal seperti ini bisa dijadikan lelucon? Aku sudah seperti orang gila tadi, melihatmu yang sekarat. Tapi ternyata, huh… “ ujar Minho lagi, mendesah panjang.
Mereka terdiam. Hanya sesenggukan Yoon Mi yang terdengar.
“Kupikir ini ide yang bagus. Semua surat berdarah, teror dan jelangkung itu aku dan Jonghyun yang merencanakannya, dan cerita Sulli tentang Yuri sunbae itu juga tipuan. Aku yang menyuruh Sulli untuk membohongimu, membuatmu percaya pada semuanya dan melupakan hari ulang tahunmu.” ucap Yoon Mi, terbata-bata.
Minho mengangkat wajah Yoon Mi, menatapnya dalam.
“Kau kumaafkan kali ini, jangan mengulanginya lagi.” Ancam Minho, yang disambut anggukan kecil Yoon Mi.
“Aku tak akan mengulanginya la… “ ucapan Yoon Mi terputus, bibir mungilnya telah terkunci rapat oleh bibir Minho.
THE END.
A/N : Special thanks for my beloved hoobae, Selvi Angelita ^^
Saya minta maaf jika upacara pernikahan pada ff ini tidak terlalu spesifik, karena saya tidak tahu seperti apa upacara pernikahan ala orang kristen. Meskipun saya berulang kali menonton film barat yang terdapat upacara pernikahan disana, tapi hanya inilah yang bisa saya ingat. Harap dimaklumi
Sebagai author, saya sebenarnya agak canggung dengan alur cerita dalam FF ini. Orang mau nikah kok malah riasan di rumah? Hhahaha~ konyol
Itu karena FF ini kejar-kejaran dengan waktu. Bahkan diksi yang saya gunakan disini sangaaaatt ringan. Itu juga yang membuat saya tidak puas, tapi saya ikhlas kok, demi Minho
Saya buat FF ini disaat lagi UAS, entahlah sudah berapa kali saya dimarahi orang tua LOL~XD
Saya kok jadi curhat? Udah deh, itu aja catatan dari saya, sekali lagi maaf jika sekiranya tidak memuaskan
Author: Tuwin
Rating : PG+15 / Straight
Main Casts: Choi Minho (SHINee), Park Yoon Mi (OC)
Other Casts: Choi Sulli (f(x)), Lee Jin Ki, Kim Jonghyun, Kim Ki Bum, Lee Taemin (SHINee), Kwon Yuri (SNSD).
Genre: Angst
Theme Song: Hana – SHINee
Length : Oneshot
Disclaimer: I don’t own the characters. They belong to their self and Park Yoon Mi is my original character . This story is only a fiction, so please not sue me and bashing this fanfiction.
Choi Minho, apa kau tahu? Aku sangat mencintaimu. Aku akan terus melukai tubuhku hingga kau tahu betapa besar cintaku padamu. Hatimu dan darahku, kita akan bersama selamanya. I love you.
Minho menghela napas panjang. Surat berdarah itu selalu menghantuinya selama tiga bulan terakhir. Terdengar ketukan dari luar.
“Masuk.” Ujar Minho.
“Oppa, apa kau baik-baik saja?” Sulli berjalan mendekat.
“Hmm.. “ Jawab Minho, sekenanya.
“Ini, kubuatkan coklat susu untukmu. Minumlah” Sulli meletakkan mug di atas meja kerja Minho. Ia mengambil surat berdarah dari tangan Minho.
“Kau dapat ini lagi?” tanya Sulli.
Minho menganggukkan kepalanya.
“Jadi, kau stres karena memikirkan surat konyol seperti ini? Oppa, pernikahanmu lusa. Seharusnya kau lebih memikirkan itu. Lupakan surat konyol ini. Masa depanmu lebih penting. Serahkan saja padaku, akan kuselidiki siapa pelakunya.” Sulli tersenyum tulus, dipeluknya Minho dengan erat.
“Gomaweo,” bisik Minho pelan.
“Ne, jaljayo,” Sulli melepaskan pelukannya, berlalu dari ruangan.
Minho menyeruput habis susu coklatnya, lalu beranjak tidur.
***
Minho memasuki ruang kantornya, bau anyir darah menyengat. Dilihatnya dinding kantornya yang dipenuhi kalimat bertuliskan :
” Hanya aku pendamping hidup yang pantas bagimu. Tak ada yang lain. Jika kau ingin kekasihmu selamat, batalkan pernikahan kalian! Jika tidak, darah kekasihmu-lah yang akan menjadi taruhannya.”
Wajah Minho pucat pasi, ia terduduk lemas. Dia merogoh sakunya, ditekannya nomor Yoon Mi dengan tergesa-gesa.
“Yoon Mi-ah, gwaenchana?” tanyanya segera.
“Kau dimana? Sendirian? Aku kesana sekarang.”
***
Minho celingukan, mencari sosok Yoon Mi. Ia melambai pelan pada gadis berambut sebahu yang mengenakan kacamata.
“Ada apa? Kenapa kau pulang cepat?” tanya Yoon Mi.
“Tidak, aku hanya ingin mengecek keadaanmu. Kau baik-baik saja kan?” Minho memegang bahu Yoon Mi.
“Minho-ah, kau aneh sekali. Tak pernah kau seperti ini sebelumnya.” alis Yoon Mi bertaut.
“Sudahlah, jangan dibahas lagi. Kita makan saja.”
“Aku ambil tasku dulu.” Punggung Yoon Mi menjauh, memasuki toko buku miliknya.
“AAAAAAAAAAA~~~ “ terdengar jeritan Yoon Mi dari dalam toko.
“Apa yang terjadi?” Minho berdiri di ambang pintu. Keringat dingin mengucur di pelipis Yoon Mi.
“I-i-tu.. “ Yoon Mi menunjuk boneka jelangkung yang tergeletak di lantai.
Minho mendekat, memungut boneka jelangkung itu, membuangnya ke tempat sampah.
“Tenanglah, jangan menangis. Ada aku disini.” Minho merangkul bahu Yoon Mi, mendekapnya erat.
“Pasti orang yang sama dengan pengirim surat itu.” batin Minho.
***
Minho menjatuhkan tubuhnya ke sofa. Dirampasnya remote tv yang dipegang Sulli.
“Oppaaaaaa~ “ teriak Sulli.
“Apa kau sudah tahu siapa pelakunya?”
Sulli terdiam. Minho menatap Sulli tajam.
“Pelakunya Yuri Sunbae, Kwon Yuri. “ jawab Sulli.
“Siapa dia? Aku tak pernah mendengar namanya.” Minho mengelus dagunya.
“Apa kau ingat? Sunbae yang pernah menyatakan cintanya padamu, saat kau kelas 2 SMA?”
“Hhmm~” gumam Minho, berusaha mengingat.
“Dia ketua cheerleaders di SMA kita.” Sulli memberikan clue.
“Aku ingat! Sunbae yang cantik itu ‘kan? Salah satu anggota geng So Nyeo Shi Dae?”
“Ya, dia orangnya.”
“Tapi aku tidak yakin dia pelakunya. Wajahnya tidak seperti seorang penjahat.”
“Jadi begini ceritanya, sewaktu kau menolak cintanya, dia frustasi sekali. Bahkan, berniat untuk bunuh diri. Dia terobsesi sekali denganmu, di dinding kamarnya saja penuh dengan fotomu. Setiap hari, dia selalu menyebut namamu. Minho, Minho, Minho dan Minho.”
“Kau pasti bohong,” ucap Minho.
“Ya sudah, kalau kau tidak percaya. Aku tahu ini semua dari Yoona sunbae, salah satu teman geng-nya. Kembalikan remote-nya, dramanya sudah dimulai.” Sulli mengambil remote dari tangan Minho, dan tak lama terbuai oleh drama yang ditontonnya.
Minho merenung, kata-kata Sulli terus bergaung di telinganya. Minho menutup matanya perlahan.
***
“Oppa~ ireona!” Sulli memencet hidung mancung Minho.
Mata minho membulat, wajahnya memerah. Minho memukul kasar tangan Sulli.
“Pabo!” Minho mengumpat kesal.
“Kau lihat jam berapa sekarang? Kita harus ke gereja pukul 8! Bersiaplah.” Sulli mendorong tubuh Minho ke kamar mandi, menutup pintunya kasar.
“Handukku mana?” kepala Minho menyembul.
Sulli melemparkan handuk tepat mengenai wajah Minho.
“Sorry,” ujar Sulli, menjulurkan lidahnya.
***
Minho keluar dari kamarnya, lengkap dengan setelan tuxedo putih. Sulli duduk di sofa, menunggunya dengan tampang kesal. Jinki, Jonghyun, Key dan Taemin telah tiba.
“Bagaimana penampilanku?” tanya Minho.
“Seperti biasa, kau selalu sempurna,” sahut Jinki disambut anggukan setuju dari Taemin.
“Lama sekali kau di dalam, kura! Kami bosan sekali menunggumu, apa kau tak lihat tampang kami, huh?” Key mengoceh panjang.
Minho tersenyum simpul,” Sorry, kita pergi sekarang saja. Kka.”
***
Minho turun dari mobil, rasa takut menyergapnya.
“Ayo jalan, kenapa kau berdiri disini? Grogi?” Jonghyun menepuk bahu Minho.
“Tenang saja, semuanya akan berjalan dengan lancar. Tak ada yang harus dikhawatirkan.” Onew tersenyum tulus.
“Ya, kau benar Hyung.” Minho melangkah dengan pasti memasuki gereja, diikuti teman-temannya. Dekorasi serba putih mewarnai tiap sudut ruangan. Yoon Mi duduk manis di bagian timur gereja, dikelilingi oleh bunga dan lilin. Gaun dengan warna senada membalut tubuhnya indah, make-up tipis semakin mempercantik dirinya. Sementara Minho, duduk di sisi satunya.
***
Upacara pemberkatan dimulai, Yoon Mi berjalan perlahan menuju altar, tempat Minho dan pendeta berdiri. Dibelakangnya dua orang anak kecil memegang ujung gaunnya. Bibir mungilnya terus mengulum senyuman kebahagiaan. Minho menyambut tangan Yoon Mi, mereka berdua menghadap pendeta.
“Choi Minho-ssi, apakah anda bersedia menerima sang mempelai wanita dalam kondisi senang ataupun susah, sehat maupun sakit sampai maut memisahkan?” tanya sang pendeta.
“I do,” jawab Minho.
“Park Yoon Mi-ssi, apakah anda bersedia menerima sang mempelai pria dalam kondisi senang ataupun susah, sehat maupun sakit sampai maut memisahkan?” tanya sang pendeta lagi.
“I do,” sahut Yoon Mi. Mereka pun bertukar cincin.
Pintu gereja menjeblak terbuka. Seorang gadis berdiri di sana, penampilannya tak karuan. Ia berjalan mendekati Minho dan Yoon Mi. Pancaran rasa sayang tampak dari matanya, ia membelai pipi Minho lembut. Lalu, menatap Yoon Mi sinis. Ia mengeluarkan sesuatu dari balik kaosnya, menusuk perut Yoon Mi dengan cepat. Yoon Mi terjatuh lemas, darah mengalir deras dari balik gaunnya. Para tamu terbelalak, mereka berlarian mendekat.
“Yoon Mi-ah, Yoon Mi-ah.. “ tangis Minho pecah. Ditepuknya pipi Yoon Mi pelan. Tak ada respon. Minho mengangkat tubuh Yoon Mi keluar dari gereja, ke arah mobilnya.
“Yoon Mi-ah, bertahanlah. Jangan tinggalkan aku.” Ucap Minho disela isak tangisnya yang mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi.
“Yoon Mi-ah….”
“Hwahahahahahahahaha…… “ Tawa Yoon Mi meledak. Minho mengerem mobilnya mendadak, membuat tawa Yoon Mi agak mereda.
“Apa kau gila, huh? Jadi, ini semua hanya lelucon? Kau mempermainkanku, Park Yoon Mi? ?” Minho berteriak nyaring. Dada bidangnya naik-turun, berusaha mengontrol amarahnya.
Yoon Mi terkejut, tak menyangka reaksi Minho akan seperti ini.
“Kau pikir ini semua lucu? Bercandamu keterlaluan! Kekanak-kanakan! Apa kau pikir hal seperti ini bisa dijadikan lelucon? Aku sudah seperti orang gila tadi, melihatmu yang sekarat. Tapi ternyata, huh… “ ujar Minho lagi, mendesah panjang.
Mereka terdiam. Hanya sesenggukan Yoon Mi yang terdengar.
“Kupikir ini ide yang bagus. Semua surat berdarah, teror dan jelangkung itu aku dan Jonghyun yang merencanakannya, dan cerita Sulli tentang Yuri sunbae itu juga tipuan. Aku yang menyuruh Sulli untuk membohongimu, membuatmu percaya pada semuanya dan melupakan hari ulang tahunmu.” ucap Yoon Mi, terbata-bata.
Minho mengangkat wajah Yoon Mi, menatapnya dalam.
“Kau kumaafkan kali ini, jangan mengulanginya lagi.” Ancam Minho, yang disambut anggukan kecil Yoon Mi.
“Aku tak akan mengulanginya la… “ ucapan Yoon Mi terputus, bibir mungilnya telah terkunci rapat oleh bibir Minho.
THE END.
A/N : Special thanks for my beloved hoobae, Selvi Angelita ^^
Saya minta maaf jika upacara pernikahan pada ff ini tidak terlalu spesifik, karena saya tidak tahu seperti apa upacara pernikahan ala orang kristen. Meskipun saya berulang kali menonton film barat yang terdapat upacara pernikahan disana, tapi hanya inilah yang bisa saya ingat. Harap dimaklumi
Sebagai author, saya sebenarnya agak canggung dengan alur cerita dalam FF ini. Orang mau nikah kok malah riasan di rumah? Hhahaha~ konyol
Itu karena FF ini kejar-kejaran dengan waktu. Bahkan diksi yang saya gunakan disini sangaaaatt ringan. Itu juga yang membuat saya tidak puas, tapi saya ikhlas kok, demi Minho
Saya kok jadi curhat? Udah deh, itu aja catatan dari saya, sekali lagi maaf jika sekiranya tidak memuaskan
[FF/series/PG-15/trouble of love/chapter 2]
Diposkan dalam fanfiction pada November 16, 2010
Title : Trouble Of Love
Author : tuwin
Genre : romance
Rating : PG-15
Lenght : Series
Location : South Korea
Language : Indonesian
Pairing : Seohyun ♥ Kyuhyun ♥ Victoria ♥ Donghae
Cast : Artist of SMTown (SHINee, f(x), Super Junior, SNSD) and 2PM.

Derap kaki bergaung nyaring ditengah keheningan malam lorong rumah sakit. Semburat rasa takut terbaca dari raut wajah polosnya. Tangan kirinya mencengkeram handphonenya erat. Matanya melirik liar ke setiap pintu yang dilewatinya. Ia berhenti didepan kamar bernomor 212. Mengetuknya. Pintu pucat itu berdecit, kepala Amber menyembul. Mata cokelatnya sembab.
“Sulli-ah, jeongmal mianhae,” ujarnya, lirih.
Amber membuka pintu lebih lebar. Seonggok tubuh ringkih bergeming ditengah kamar. Rangkaian peralatan medis menghiasi pergelangan tangan orang itu. Butiran bening menggenang disudut mata Sulli.
Sulli membekap mulutnya sendiri. Tubuhnya beringsut mendekati tubuh ringkih itu. Ditatapnya sendu orang itu sambil mengenggam tangan pucatnya yang tak berdaya.
“Eonni….,” tangis Sulli pecah.
“I-itu t-ter-ja-di be-be-gitu sa-ja. A-aku ti-tidak ber-mak-sud men-ce-la-ka-kan eonni-mu. A-aku mengen-da-ra-i mo-mo-bil-ku de-ngan ke-ce-pa-tan ting-gi dan…..,”
“Cukup! Pergi kau dari hadapanku! Aku tidak ingin melihatmu!” tegas Sulli.
“Sulli-ah,” ucap Amber sembari berusaha menggapai bahu Sulli.
Sulli menepisnya dengan keras. Amber berlutut, memegang kaki jenjang Sulli. Air mata mengalir di kedua belah pipinya. “Maafkan aku, Sulli. Aku memang bodoh. Aku mohon, maafkan aku.” Sulli menghentakkan kakinya dengan keras, membuat Amber terjungkal.
“Aku tak sudi menerima permintaan maafmu! Kau sudah keterlaluan, Am! Pergi kau!,” ucap Sulli dengan mata yang membara.
“Sulli-ah,” Amber menatap Sulli dengan penuh harap.
Sulli mendorong tubuh Amber keluar dari ruangan, lalu menguncinya. “Sulli,” Amber mengetuk pintu itu dengan terus menyebut nama Sulli. Namun, tak ada respon sama sekali. Amber terduduk lesu, memeluk lututnya sendiri.
***
Jessica merapikan dokumen yang berantakan di atas mejanya. Jam sudah menunjukkan pukul 23.45 waktu Tokyo. Jessica mengerling ke pintu dihadapannya. Sorot lampu masih terpancar dari celah ventilasi ruangan itu. Tubuh gemulainya mendekati daun pintu.
“Donghae-ssi,” panggilnya. Tak ada jawaban.
“Donghae-ssi,” ulangnya. Hening.
“Kemana dia?” batin Jessica. Ia meraih gagang pintu, menengok ke dalam.
Donghae tertidur pulas di sofa. Kerah bajunya sedikit terbuka, memperlihatkan lekuk ototnya yang sempurna. “Wow!” Jessica membulatkan mulutnya, membentuk lingkaran kecil.
Jessica memutar bola matanya, memperhatikan daerah sekitar sofa yang carut-marut. Botol soju bergelimpungan diatas meja, membentuk aliran sungai. Kertas-kertas bertebaran dimana-mana. Jessica menghembus nafas pelan. “Selalu seperti ini.” ucap Jessica dalam hati.
Ia berjalan mengendap-endap memasuki ruangan, mengambil sekotak tissue, merenggutnya beberapa helai lalu mengelapkannya ke aliran sungai soju. Setelah itu, Ia memungut setiap kertas yang dijumpainya. Ditaruhnya kertas-kertas itu diatas meja kerja Donghae. Ditatanya meja kerja itu seperti sediakala.
Jessica menatap layar desktop laptop Donghae. Terpampang foto dua remaja yang terlihat mesra sekali dengan jemari yang saling bertaut. Kecemburuan membakar relung hati Jessica.
“Kau tak pantas untuk Donghae-ssi! Dia hanya milikku! Lagipula, tak ada yang bisa dibanggakan dari dirimu. Wajahmu jelek dan selera pakaianmu layaknya babu. Sedangkan aku, sangat sempurna! Pria manapun pasti akan bertekuk lutut di hadapanku!” Jessica terkikik.
“Hmmm, nugu?” desah Donghae.
Jessica mengambil cermin kecil di tasnya, mengolesi bibirnya dengan lipstick, mengulum dan memastikan bibirnya sudah terlihat mengilap juga mengundang. Jessica berbalik dan mendekat ke arah Donghae.
“Jessica-ssi,” Donghae membetulkan posisi tubuhnya agar duduk.
“Donghae-ssi, kau terlalu giat bekerja. Wajahmu terlihat lelah sekali, tidurlah lagi. Nanti, aku ambilkan pakaian ganti untukmu.”
“Tidak perlu, lebih baik aku pulang saja,” ucap Donghae, menguap.
Neo gateun saram tto eopseo~
Handphone Donghae berdering. “Ehm, yeoboseyo?…..,” kalimat Donghae terputus, suaranya tercekat, wajahnya memucat. “A-apa? Lantas bagaimana keadaannya? Dimana dia dirawat? Baiklah, aku kesana sekarang. Gomapseumnida.” Donghae mengakhiri pembicaraannya.
“Donghae-ssi, apa yang terjadi?”
“Aku tidak bisa memberitahumu sekarang, jeoseonghamnida,” Donghae mengambil jasnya. Lalu, berlari keluar ruangan. Meninggalkan Jessica yang termangu.
“Donghae-ssi,” panggil Jessica, berusaha mengejar Donghae. Namun, jarak antara dirinya dan Donghae semakin jauh.
Donghae berhenti di pinggir trotoar, men-stop taksi kosong yang lewat dan segera masuk. Jessica terengah. Taksi yang ditumpangi Donghae tak tampak lagi. Ia meraih handphone-nya, menghubungi Mr.Park. “Mwo?” jeritnya kemudian.
***
Seohyun memasuki sebuah klab malam mewah. Musik dance mengiringi seluruh ruangan. Seorang pelayan menggiringnya ke sebuah meja yang sudah ditempati oleh Kyuhyun dan ‘teman wanitanya’.
“Kalian semua, pergi sana!” Seohyun membentak ‘teman wanita’ Kyuhyun.
Beberapa diantaranya beranjak dari situ dengan mengumpat. Mereka melirik Seohyun sinis.
“Kau! Kenapa masih disini? Pergi!“ teriak Seohyun pada perempuan disamping Kyuhyun.
“Oppa,” desah perempuan itu.
“Yoo Hee-ah, aku akan menghubungimu nanti.” ucap Kyuhyun, memberikan ‘kecupan selamat tinggal’ pada wanita itu. Yoo Hee bangkit, menyenggol bahu Seohyun keras.
“Wanita murahan,” umpat Seohyun. “Ada keperluan apa kau disini? Mengganggu saja,” Kyuhyun menenggak habis soju miliknya. Rasa kekesalan Seohyun membuncah.
PLAAAAAK!!
Seohyun menampar wajah Kyuhyun. Orang-orang disekitar situ memperhatikan mereka. Kyuhyun tersenyum, dia mengelus pipinya yang memerah. “Tanganmu harum.”
“Berhenti bercanda, Kyu!” seru Seohyun.
“Kau cemburu?” tanyanya, menatap tajam Seohyun.
“Perempuan mana yang tidak cemburu melihat pacarnya bermesraan dengan perempuan lain?” Seohyun membuang muka. Air mata mengalir dari sudut pipinya.
“Perempuan selalu seperti ini, menyelesaikan masalah dengan tangisan,” batin Kyuhyun.
Kyuhyun bangkit. Dipegangnya dagu Seohyun lalu diciumnya.
“Apakah itu cukup untuk menebus kesalahanku?” tanya Kyuhyun.
Seohyun terdiam. “Ayo, kita pergi.” Kyuhyun memeluk pinggang Seohyun, meninggalkan klab.
***
Donghae memasuki St.Mary’s Hospital. Penampilannya berantakan. Hanya nama Amber-lah yang terngiang dikepalanya.
“Ada yang bisa kami bantu, Tuan?” tanya salah satu suster disitu.
“Dimana kamar pasien nomor 212?”
“Dari sini, Anda belok kiri. Naik lift, lantai 4, lalu belok kanan. Ruangannya di pojok sekali.” jawab suster tersebut.
“Algesseumnida, Kamsahamnida Sooyoung-ssi.” sahut Donghae, mendelik nametag suster tersebut.
***
Donghae mengetuk pintu bernomor 212. Tidak terkunci. Ia menengok ke dalam, kosong. “Amber-ah, Amber-ah,” panggil Donghae.
“Hyung. Apa yang kau lakukan disini?” Donghae berbalik. Amber berdiri didepan pintu, Sulli disampingnya, membungkuk sedikit, lalu memasuki ruangan. Donghae melongo. “Kau baik-baik saja?” Donghae mendekati Amber.
“Amber-ah, eonni…. Dia tidak ada disini.” Sulli keluar dari kamar kecil.
“Mwo? Apakah kau sudah mengecek ke seluruh ruangan?”
“Tak ada, Am. Kondisi tubuhnya belum pulih” Sulli sesenggukan.
Donghae menatap Sulli tidak percaya. “Eonni? Maksudmu, Victoria? Jadi, yang kecelakaan itu Victoria? Bukan Amber?” tanya Donghae. Sulli mengangguk.
“Sudah berapa lama kalian meninggalkan ruangan ini?”
“Sekitar 30 menit,” jawab Amber.
Donghae berlari cepat meninggalkan ruangan. “Dia belum jauh dari sini. Aku harus menemukannya.” batin Donghae.
Donghae memperhatikan setiap pejalan kaki yang dilewatinya. Tak ada Victoria diantara mereka. Matanya berhenti pada satu titik. Seorang perempuan dengan rambut hitam tergerai memasuki sebuah bus hijau. Perempuan itu mengenakan pakaian khusus pasien rumah sakit. Bus hijau itu berjalan menjauh. “Victoria,” teriak Donghae, berlari mendekati bus. Jarak antara mereka terlalu jauh. Ia terduduk dipinggir zebra cross. “Victoriaaaaaa,” teriaknya, tangisnya pecah. Pejalan kaki menatapnya heran.
***
“Permisi, apakah Anda baik-baik saja?” tanya seorang wanita yang sepertinya seumuran dengannya.
“Aku baik-baik saja,” jawab Victoria, tersenyum.
“Tapi, wajah Anda pucat sekali.”
Victoria terdiam, enggan menanggapi ucapan wanita itu. Bus berhenti beberapa kali, hingga akhirnya hanya tersisa Victoria dan wanita tadi dibangku penumpang. Bus berhenti tak jauh dari Seoul Art Center. Victoria berjalan mendahului wanita itu. “Ah, sial! Aku ‘kan tidak bawa uang. Bagaimana ini?” rutuk Victoria.
“Kka,” wanita tadi merangkul bahu Victoria.
“YA?! Apa yang kau lakukan? Aku ‘kan belum bayar!” seru Victoria.
“Aku sudah membayarkanmu. Ayo, nanti supirnya marah tuh,” wanita itu tersenyum. Mereka turun dari bus.
“Ehm, terima kasih sudah membantuku.” Victoria membungkuk.
“Sudahlah, hanya hal kecil. Oh ya, kita belum berkenalan. Aku Kwon BoA, panggil saja BoA. Kau?”
“Aku Victoria, Victoria Song,”
“Namamu bagus. Victoria-ssi, apa kau akan masuk kesana dengan pakaian seperti ini?” BoA memperhatikan penampilan Victoria dari atas hingga bawah. “Kita beli pakaian untukmu dulu,”
“Tapi,” bantah Victoria.
“Ikuti saja aku.”
Victoria dan BoA memasuki butik tak jauh dari situ. “Pilihlah sesukamu, kebetulan butik ini milik temanku.”
30 menit kemudian.
“Begini lebih baik. Ayo, kita sudah terlambat. Acaranya dimulai 15 menit yang lalu. Taeyeon-ssi, kamsahamnida.” BoA melambaikan tangan pada temannya.
Mereka memasuki Seoul Art Center. BoA membeli tiket untuk mereka berdua. Tempat itu sudah dipenuhi penonton berbagai usia. Mereka duduk sesuai nomor yang tertera di tiket. 2 jam berlalu, acara telah usai.
“BoA-ssi, jeongmal kamsahamnida. Maaf, aku telah merepotkanmu. Jika kita bertemu lagi, aku akan membalas jasamu.” Victoria membungkuk dalam.
“Sama-sama, Victoria-ssi. Oh ya, aku pulang dulu, ada keperluan. Jangan sungkan untuk meneleponku jika kau membutuhkanku. Annyeonghaseyo,” BoA membungkuk, lalu berlalu.
***
Victoria berjalan sempoyongan menuju backstage. “Sonsaengnim, kau datang! Bagaimana penampilan kami?” teriak Taemin, murid termuda di Gengxin, berlari menghampiri Victoria.
“Perfect!” senyum mengembang di pipi Victoria.
Seseorang menarik paksa tangan Victoria, menjauh dari situ.
“Hyung!” teriak Taemin.
Victoria berusaha memberontak, tapi tenaga orang itu lebih besar darinya. Orang itu berjalan ke lorong kosong, memojokkan tubuh Victoria ke tembok.
“Khunnie?”
“Kenapa kau lama sekali, Noona? Darimana saja kau?”
“Mianhae, Khunnie-ah,”
Nichkhun memeluk Victoria erat. “Aku takut kau tak akan datang, Noona. Aku sangat mengkhawatirkanmu,”
“Maaf telah membuatmu cemas, nae dongsaengi. Aku janji tak akan mengulanginya lagi,” Victoria mengelus bahu Nichkhun, lembut.
“Adik?” batin Nichkhun.
“Karena pertunjukan kalian berjalan dengan sukses, mari kita merayakannya bersama.” Victoria melepaskan pelukannya, menggenggam tangan Nichkhun. Nichkhun menahan tangan Victoria.
“Noona, kenapa tanganmu dingin sekali? Kau sakit?” Nichkhun memegang dahi Victoria untuk memastikan.
“Aku tidak apa-apa,” Victoria menurunkan tangan Nichkhun dari dahinya.
“Aku antar kau pulang sekarang. Naik ke punggungku.” perintah Nichkhun.
***
“Darimana saja kalian?” Yunho berkacak pinggang. “Aku sudah lapar dari tadi,” Eunhyuk muncul disamping Yunho.
“Jangan selalu menyambung perkataanku! Aku benci itu!” Yunho menjitak kepala Eunhyuk. Eunhyuk menjulurkan lidahnya dan mengacungkan jari tengah pada Yunho.
“Aissh, monyet tengik!” Yunho mengepalkan tinjunya.
“Hyung, jeongmal mianhaeyo. Aku tidak bisa ikut denganmu. Victoria noona sedang sakit. Aku harus mengantarkannya pulang.” Nichkhun mengedikkan kepalanya pada Victoria yang terbaring lemah di punggungnya.
“Ah, ye. Hati-hati.” sahut Yunho dan Eunhyuk bersamaan.
***
Donghae memperhatikan ruas jalan yang sepi. Tak ada tanda-tanda manusia disana. Berulangkali dia mencoba menghubungi Victoria melalui handphone Sulli, namun nihil. Sorot lampu motor menyilaukan matanya. Motor tersebut berhenti tak jauh dari posisinya berdiri. Donghae memicingkan matanya. Ia terkesiap. “Victoria? Tapi, siapa pengendara motor itu?” batinnya.
To be continued…..
Author : tuwin
Genre : romance
Rating : PG-15
Lenght : Series
Location : South Korea
Language : Indonesian
Pairing : Seohyun ♥ Kyuhyun ♥ Victoria ♥ Donghae
Cast : Artist of SMTown (SHINee, f(x), Super Junior, SNSD) and 2PM.
Derap kaki bergaung nyaring ditengah keheningan malam lorong rumah sakit. Semburat rasa takut terbaca dari raut wajah polosnya. Tangan kirinya mencengkeram handphonenya erat. Matanya melirik liar ke setiap pintu yang dilewatinya. Ia berhenti didepan kamar bernomor 212. Mengetuknya. Pintu pucat itu berdecit, kepala Amber menyembul. Mata cokelatnya sembab.
“Sulli-ah, jeongmal mianhae,” ujarnya, lirih.
Amber membuka pintu lebih lebar. Seonggok tubuh ringkih bergeming ditengah kamar. Rangkaian peralatan medis menghiasi pergelangan tangan orang itu. Butiran bening menggenang disudut mata Sulli.
Sulli membekap mulutnya sendiri. Tubuhnya beringsut mendekati tubuh ringkih itu. Ditatapnya sendu orang itu sambil mengenggam tangan pucatnya yang tak berdaya.
“Eonni….,” tangis Sulli pecah.
“I-itu t-ter-ja-di be-be-gitu sa-ja. A-aku ti-tidak ber-mak-sud men-ce-la-ka-kan eonni-mu. A-aku mengen-da-ra-i mo-mo-bil-ku de-ngan ke-ce-pa-tan ting-gi dan…..,”
“Cukup! Pergi kau dari hadapanku! Aku tidak ingin melihatmu!” tegas Sulli.
“Sulli-ah,” ucap Amber sembari berusaha menggapai bahu Sulli.
Sulli menepisnya dengan keras. Amber berlutut, memegang kaki jenjang Sulli. Air mata mengalir di kedua belah pipinya. “Maafkan aku, Sulli. Aku memang bodoh. Aku mohon, maafkan aku.” Sulli menghentakkan kakinya dengan keras, membuat Amber terjungkal.
“Aku tak sudi menerima permintaan maafmu! Kau sudah keterlaluan, Am! Pergi kau!,” ucap Sulli dengan mata yang membara.
“Sulli-ah,” Amber menatap Sulli dengan penuh harap.
Sulli mendorong tubuh Amber keluar dari ruangan, lalu menguncinya. “Sulli,” Amber mengetuk pintu itu dengan terus menyebut nama Sulli. Namun, tak ada respon sama sekali. Amber terduduk lesu, memeluk lututnya sendiri.
***
Jessica merapikan dokumen yang berantakan di atas mejanya. Jam sudah menunjukkan pukul 23.45 waktu Tokyo. Jessica mengerling ke pintu dihadapannya. Sorot lampu masih terpancar dari celah ventilasi ruangan itu. Tubuh gemulainya mendekati daun pintu.
“Donghae-ssi,” panggilnya. Tak ada jawaban.
“Donghae-ssi,” ulangnya. Hening.
“Kemana dia?” batin Jessica. Ia meraih gagang pintu, menengok ke dalam.
Donghae tertidur pulas di sofa. Kerah bajunya sedikit terbuka, memperlihatkan lekuk ototnya yang sempurna. “Wow!” Jessica membulatkan mulutnya, membentuk lingkaran kecil.
Jessica memutar bola matanya, memperhatikan daerah sekitar sofa yang carut-marut. Botol soju bergelimpungan diatas meja, membentuk aliran sungai. Kertas-kertas bertebaran dimana-mana. Jessica menghembus nafas pelan. “Selalu seperti ini.” ucap Jessica dalam hati.
Ia berjalan mengendap-endap memasuki ruangan, mengambil sekotak tissue, merenggutnya beberapa helai lalu mengelapkannya ke aliran sungai soju. Setelah itu, Ia memungut setiap kertas yang dijumpainya. Ditaruhnya kertas-kertas itu diatas meja kerja Donghae. Ditatanya meja kerja itu seperti sediakala.
Jessica menatap layar desktop laptop Donghae. Terpampang foto dua remaja yang terlihat mesra sekali dengan jemari yang saling bertaut. Kecemburuan membakar relung hati Jessica.
“Kau tak pantas untuk Donghae-ssi! Dia hanya milikku! Lagipula, tak ada yang bisa dibanggakan dari dirimu. Wajahmu jelek dan selera pakaianmu layaknya babu. Sedangkan aku, sangat sempurna! Pria manapun pasti akan bertekuk lutut di hadapanku!” Jessica terkikik.
“Hmmm, nugu?” desah Donghae.
Jessica mengambil cermin kecil di tasnya, mengolesi bibirnya dengan lipstick, mengulum dan memastikan bibirnya sudah terlihat mengilap juga mengundang. Jessica berbalik dan mendekat ke arah Donghae.
“Jessica-ssi,” Donghae membetulkan posisi tubuhnya agar duduk.
“Donghae-ssi, kau terlalu giat bekerja. Wajahmu terlihat lelah sekali, tidurlah lagi. Nanti, aku ambilkan pakaian ganti untukmu.”
“Tidak perlu, lebih baik aku pulang saja,” ucap Donghae, menguap.
Neo gateun saram tto eopseo~
Handphone Donghae berdering. “Ehm, yeoboseyo?…..,” kalimat Donghae terputus, suaranya tercekat, wajahnya memucat. “A-apa? Lantas bagaimana keadaannya? Dimana dia dirawat? Baiklah, aku kesana sekarang. Gomapseumnida.” Donghae mengakhiri pembicaraannya.
“Donghae-ssi, apa yang terjadi?”
“Aku tidak bisa memberitahumu sekarang, jeoseonghamnida,” Donghae mengambil jasnya. Lalu, berlari keluar ruangan. Meninggalkan Jessica yang termangu.
“Donghae-ssi,” panggil Jessica, berusaha mengejar Donghae. Namun, jarak antara dirinya dan Donghae semakin jauh.
Donghae berhenti di pinggir trotoar, men-stop taksi kosong yang lewat dan segera masuk. Jessica terengah. Taksi yang ditumpangi Donghae tak tampak lagi. Ia meraih handphone-nya, menghubungi Mr.Park. “Mwo?” jeritnya kemudian.
***
Seohyun memasuki sebuah klab malam mewah. Musik dance mengiringi seluruh ruangan. Seorang pelayan menggiringnya ke sebuah meja yang sudah ditempati oleh Kyuhyun dan ‘teman wanitanya’.
“Kalian semua, pergi sana!” Seohyun membentak ‘teman wanita’ Kyuhyun.
Beberapa diantaranya beranjak dari situ dengan mengumpat. Mereka melirik Seohyun sinis.
“Kau! Kenapa masih disini? Pergi!“ teriak Seohyun pada perempuan disamping Kyuhyun.
“Oppa,” desah perempuan itu.
“Yoo Hee-ah, aku akan menghubungimu nanti.” ucap Kyuhyun, memberikan ‘kecupan selamat tinggal’ pada wanita itu. Yoo Hee bangkit, menyenggol bahu Seohyun keras.
“Wanita murahan,” umpat Seohyun. “Ada keperluan apa kau disini? Mengganggu saja,” Kyuhyun menenggak habis soju miliknya. Rasa kekesalan Seohyun membuncah.
PLAAAAAK!!
Seohyun menampar wajah Kyuhyun. Orang-orang disekitar situ memperhatikan mereka. Kyuhyun tersenyum, dia mengelus pipinya yang memerah. “Tanganmu harum.”
“Berhenti bercanda, Kyu!” seru Seohyun.
“Kau cemburu?” tanyanya, menatap tajam Seohyun.
“Perempuan mana yang tidak cemburu melihat pacarnya bermesraan dengan perempuan lain?” Seohyun membuang muka. Air mata mengalir dari sudut pipinya.
“Perempuan selalu seperti ini, menyelesaikan masalah dengan tangisan,” batin Kyuhyun.
Kyuhyun bangkit. Dipegangnya dagu Seohyun lalu diciumnya.
“Apakah itu cukup untuk menebus kesalahanku?” tanya Kyuhyun.
Seohyun terdiam. “Ayo, kita pergi.” Kyuhyun memeluk pinggang Seohyun, meninggalkan klab.
***
Donghae memasuki St.Mary’s Hospital. Penampilannya berantakan. Hanya nama Amber-lah yang terngiang dikepalanya.
“Ada yang bisa kami bantu, Tuan?” tanya salah satu suster disitu.
“Dimana kamar pasien nomor 212?”
“Dari sini, Anda belok kiri. Naik lift, lantai 4, lalu belok kanan. Ruangannya di pojok sekali.” jawab suster tersebut.
“Algesseumnida, Kamsahamnida Sooyoung-ssi.” sahut Donghae, mendelik nametag suster tersebut.
***
Donghae mengetuk pintu bernomor 212. Tidak terkunci. Ia menengok ke dalam, kosong. “Amber-ah, Amber-ah,” panggil Donghae.
“Hyung. Apa yang kau lakukan disini?” Donghae berbalik. Amber berdiri didepan pintu, Sulli disampingnya, membungkuk sedikit, lalu memasuki ruangan. Donghae melongo. “Kau baik-baik saja?” Donghae mendekati Amber.
“Amber-ah, eonni…. Dia tidak ada disini.” Sulli keluar dari kamar kecil.
“Mwo? Apakah kau sudah mengecek ke seluruh ruangan?”
“Tak ada, Am. Kondisi tubuhnya belum pulih” Sulli sesenggukan.
Donghae menatap Sulli tidak percaya. “Eonni? Maksudmu, Victoria? Jadi, yang kecelakaan itu Victoria? Bukan Amber?” tanya Donghae. Sulli mengangguk.
“Sudah berapa lama kalian meninggalkan ruangan ini?”
“Sekitar 30 menit,” jawab Amber.
Donghae berlari cepat meninggalkan ruangan. “Dia belum jauh dari sini. Aku harus menemukannya.” batin Donghae.
Donghae memperhatikan setiap pejalan kaki yang dilewatinya. Tak ada Victoria diantara mereka. Matanya berhenti pada satu titik. Seorang perempuan dengan rambut hitam tergerai memasuki sebuah bus hijau. Perempuan itu mengenakan pakaian khusus pasien rumah sakit. Bus hijau itu berjalan menjauh. “Victoria,” teriak Donghae, berlari mendekati bus. Jarak antara mereka terlalu jauh. Ia terduduk dipinggir zebra cross. “Victoriaaaaaa,” teriaknya, tangisnya pecah. Pejalan kaki menatapnya heran.
***
“Permisi, apakah Anda baik-baik saja?” tanya seorang wanita yang sepertinya seumuran dengannya.
“Aku baik-baik saja,” jawab Victoria, tersenyum.
“Tapi, wajah Anda pucat sekali.”
Victoria terdiam, enggan menanggapi ucapan wanita itu. Bus berhenti beberapa kali, hingga akhirnya hanya tersisa Victoria dan wanita tadi dibangku penumpang. Bus berhenti tak jauh dari Seoul Art Center. Victoria berjalan mendahului wanita itu. “Ah, sial! Aku ‘kan tidak bawa uang. Bagaimana ini?” rutuk Victoria.
“Kka,” wanita tadi merangkul bahu Victoria.
“YA?! Apa yang kau lakukan? Aku ‘kan belum bayar!” seru Victoria.
“Aku sudah membayarkanmu. Ayo, nanti supirnya marah tuh,” wanita itu tersenyum. Mereka turun dari bus.
“Ehm, terima kasih sudah membantuku.” Victoria membungkuk.
“Sudahlah, hanya hal kecil. Oh ya, kita belum berkenalan. Aku Kwon BoA, panggil saja BoA. Kau?”
“Aku Victoria, Victoria Song,”
“Namamu bagus. Victoria-ssi, apa kau akan masuk kesana dengan pakaian seperti ini?” BoA memperhatikan penampilan Victoria dari atas hingga bawah. “Kita beli pakaian untukmu dulu,”
“Tapi,” bantah Victoria.
“Ikuti saja aku.”
Victoria dan BoA memasuki butik tak jauh dari situ. “Pilihlah sesukamu, kebetulan butik ini milik temanku.”
30 menit kemudian.
“Begini lebih baik. Ayo, kita sudah terlambat. Acaranya dimulai 15 menit yang lalu. Taeyeon-ssi, kamsahamnida.” BoA melambaikan tangan pada temannya.
Mereka memasuki Seoul Art Center. BoA membeli tiket untuk mereka berdua. Tempat itu sudah dipenuhi penonton berbagai usia. Mereka duduk sesuai nomor yang tertera di tiket. 2 jam berlalu, acara telah usai.
“BoA-ssi, jeongmal kamsahamnida. Maaf, aku telah merepotkanmu. Jika kita bertemu lagi, aku akan membalas jasamu.” Victoria membungkuk dalam.
“Sama-sama, Victoria-ssi. Oh ya, aku pulang dulu, ada keperluan. Jangan sungkan untuk meneleponku jika kau membutuhkanku. Annyeonghaseyo,” BoA membungkuk, lalu berlalu.
***
Victoria berjalan sempoyongan menuju backstage. “Sonsaengnim, kau datang! Bagaimana penampilan kami?” teriak Taemin, murid termuda di Gengxin, berlari menghampiri Victoria.
“Perfect!” senyum mengembang di pipi Victoria.
Seseorang menarik paksa tangan Victoria, menjauh dari situ.
“Hyung!” teriak Taemin.
Victoria berusaha memberontak, tapi tenaga orang itu lebih besar darinya. Orang itu berjalan ke lorong kosong, memojokkan tubuh Victoria ke tembok.
“Khunnie?”
“Kenapa kau lama sekali, Noona? Darimana saja kau?”
“Mianhae, Khunnie-ah,”
Nichkhun memeluk Victoria erat. “Aku takut kau tak akan datang, Noona. Aku sangat mengkhawatirkanmu,”
“Maaf telah membuatmu cemas, nae dongsaengi. Aku janji tak akan mengulanginya lagi,” Victoria mengelus bahu Nichkhun, lembut.
“Adik?” batin Nichkhun.
“Karena pertunjukan kalian berjalan dengan sukses, mari kita merayakannya bersama.” Victoria melepaskan pelukannya, menggenggam tangan Nichkhun. Nichkhun menahan tangan Victoria.
“Noona, kenapa tanganmu dingin sekali? Kau sakit?” Nichkhun memegang dahi Victoria untuk memastikan.
“Aku tidak apa-apa,” Victoria menurunkan tangan Nichkhun dari dahinya.
“Aku antar kau pulang sekarang. Naik ke punggungku.” perintah Nichkhun.
***
“Darimana saja kalian?” Yunho berkacak pinggang. “Aku sudah lapar dari tadi,” Eunhyuk muncul disamping Yunho.
“Jangan selalu menyambung perkataanku! Aku benci itu!” Yunho menjitak kepala Eunhyuk. Eunhyuk menjulurkan lidahnya dan mengacungkan jari tengah pada Yunho.
“Aissh, monyet tengik!” Yunho mengepalkan tinjunya.
“Hyung, jeongmal mianhaeyo. Aku tidak bisa ikut denganmu. Victoria noona sedang sakit. Aku harus mengantarkannya pulang.” Nichkhun mengedikkan kepalanya pada Victoria yang terbaring lemah di punggungnya.
“Ah, ye. Hati-hati.” sahut Yunho dan Eunhyuk bersamaan.
***
Donghae memperhatikan ruas jalan yang sepi. Tak ada tanda-tanda manusia disana. Berulangkali dia mencoba menghubungi Victoria melalui handphone Sulli, namun nihil. Sorot lampu motor menyilaukan matanya. Motor tersebut berhenti tak jauh dari posisinya berdiri. Donghae memicingkan matanya. Ia terkesiap. “Victoria? Tapi, siapa pengendara motor itu?” batinnya.
To be continued…..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar